Home / Berita / Memajukan Kesejahteraan Bangsa : Meneguhkan (lagi) Semangat Al-maun di Era Disruptif

Memajukan Kesejahteraan Bangsa : Meneguhkan (lagi) Semangat Al-maun di Era Disruptif

KEDIRI, MaTaSaRoJa.Id – (18/11/2025) Oleh : Imam W. Zarkasyi, AT.MM (Koordinator Presidium Daerah Kediri.

Di tengah dunia yang berubah begitu cepat, kita sering merasa teknologi bergerak lebih laju dari kemampuan manusia untuk mengikutinya. Informasi datang silih berganti, ekonomi digital tumbuh pesat, namun di sisi lain masih banyak masyarakat yang tertinggal. Indonesia menghadapi tantangan baru: kesenjangan digital, peluang kerja yang berubah, dan melemahnya empati sosial.

Pada situasi inilah, saya kembali teringat pada ajaran yang sejak kecil sangat akrab dalam hidup saya: Teologi Al-Maun.
Saya ditakdirkan lahir dari keluarga aktivis Muhammadiyah. Ayah dan ibu saya sama-sama aktif di Gerakan ini. Kegiatan rapat, pengajian, dan kegiatan sosial sudah bagian keseharian kami. Sejak kecil saya diajari bahwa agama bukan hanya tentang doa dan hafalan, tapi tentang kepedulian. Saya masuk sekolah SD Muhammadiyah, di mana nilai itu semakin kuat tertanam.

Surat Al-Maun pertama kali saya hafal karena tugas sekolah, tetapi maknanya makin saya pahami jauh lebih dalam ketika menyaksikan bagaimana Muhammadiyah bekerja di lapangan: mengajar, menolong, mengobati, dan memberdayakan.
Dalam proses bertumbuh, saya hidup di berbagai organisasi dan kegiatan yang bermacam ragam aktivisme nya, dari Pramuka, Palang Merah, Organisasi Intra dan ekstra kampus, dan kegiatan-kegiatan lain yang menyuntikkan kelebaran berpikir dan pandangan dalam beraktualisasi.

Karena itu, pada Milad Muhammadiyah ke-113 tahun ini, saya ingin menyampaikan selamat ulang tahun kepada gerakan yang telah mengajarkan begitu banyak nilai penting bagi hidup saya dan jutaan orang lainnya. Usia 113 tahun adalah bukti betapa konsistennya Persyarikatan.

Muhammadiyah bekerja untuk umat—baik melalui sekolah, rumah sakit, panti asuhan, maupun gerakan sosial yang terus relevan hingga hari ini. Relevansi Semangat Al Maun di masa Kini. Hari ini kita hidup dalam era yang serba digital. Banyak hal lebih mudah, tetapi juga banyak yang lebih rumit. Yang mampu mengikuti perkembangan teknologi akan mendapat peluang besar.

Sebaliknya, yang tertinggal akan semakin tertinggal. Kesenjangan tidak lagi hanya soal pendapatan, tetapi juga kemampuan beradaptasi dengan zaman. Bahkan empati pun berubah: kita mudah tersentuh oleh video yang viral, tetapi sering tidak menyadari ada tetangga yang sedang kesulitan. Dalam suasana seperti ini, pesan Al-Maun terasa semakin penting.

Kesenjangan ekonomi melebar, terutama antara mereka yang melek digital dan yang tertinggal secara teknologi. Muncul “kemiskinan baru”: mereka yang tidak mampu mengikuti perubahan digital, tidak punya akses literasi teknologi, atau tidak memiliki kesempatan beradaptasi dengan pekerjaan masa depan. Selain itu, empati sosial sering tergerus oleh ritme hidup yang semakin individualistik.

Kita mudah tersentuh oleh bencana di media sosial, tetapi terkadang tidak mengenal nama tetangga kiri-kanan rumah.
Surat Al-Maun tidak hanya berbicara tentang kewajiban menyantuni yatim dan dhuafa. Ia menegur orang yang rajin beribadah tetapi tidak peduli pada sesama. Teguran ini seolah kembali mengetuk kita: apakah kemajuan teknologi membuat kita lebih dekat satu sama lain, atau justru sebaliknya?

Di sinilah relevansi Teologi Al-Maun kembali terasa begitu kuat. Surat yang dulu mendorong KH. Ahmad Dahlan untuk membangun sekolah, panti asuhan, dan rumah sakit, kini memanggil kita untuk memaknai ulang konteksnya. KH. Ahmad Dahlan pernah mengulang-ulang bacaan Al-Maun kepada murid-muridnya. Bukan karena mereka belum hafal, tetapi karena mereka belum menghidupkan ayatnya dalam Tindakan.

Kalau kyai Dahlan hidup di era disruptif ini, saya meyakini beliau akan bertanya: “Apakah kita sudah menolong anak-anak yatim digital? Apakah kita sudah memberdayakan kaum lemah yang ditinggalkan perkembangan teknologi?”
Jika semangat Al-Maun dihadapkan pada era disruptif.

Setidaknya ada tiga pesan utama yang bisa kita ambil

  • Pertama, Iman harus melahirkan kepedulian, Di era algoritma sekarang ini, empati sering kalah oleh distraksi. Teologi Al-Maun menegaskan kembali bahwa keberagamaan yang sejati harus membongkar tembok ketidakpedulian.
  • Kedua, Bantuan harus naik tingkat menjadi pemberdayaan, Mengasuh anak yatim dan membantu dhuafa pada masa kyai Dahlan diterjemahkan ke dalam pelayanan pendidikan dan kesehatan. Kini, konteksnya bertambah: pemberdayaan digital, literasi ekonomi, dan transformasi teknologi.
  • Ketiga, Kesalehan sosial adalah ibadah sosial tertinggi, Hidup modern menghadirkan bentuk-bentuk ketidakadilan baru: akses internet, kualitas pendidikan, hingga kesempatan kerja. Al-Maun mendorong kita memperjuangkan keadilan di semua lini. Al-Maun menolak pemisahan antara ritual dan tindakan sosial. Dalam masyarakat modern, kesalehan sosial menjadi bentuk utama keberagamaan yang relevan.

Dengan demikian, Al-Maun memberikan fondasi teologis yang kuat bagi agenda memajukan bangsa: bukan sekadar program bantuan, tetapi perubahan struktural yang mendorong kemandirian dan martabat.

Ada beberapa langkah penting untuk membangkitkan kembali “gairah Al-Maun” generasi baru:

  • Pertama, Mentransformasi Amal Usaha Menjadi Ruang Inovasi Sosial. Sekolah, rumah sakit, dan panti asuhan Muhammadiyah harus menjadi laboratorium gagasan baru—bukan sekadar lembaga pelayanan. Ke depan, Inovasi pendidikan berbasis AI, riset kesehatan, model ekonomi baru, hingga start-up sosial bisa lahir dari amal usaha.
  • Kedua, Mengintegrasikan Spirit Al-Maun dalam Aktivisme Digital Para kader muda punya kekuatan besar di ruang digital. Narasi kemanusiaan, advokasi sosial, hingga gerakan solidaritas berbasis teknologi harus menjadi wajah baru dakwah berkemajuan.
  • Ketiga, Mendorong Gerakan Ekonomi Umat yang Berkelanjutan. Pendekatan karitatif perlu ditingkatkan menjadi pemberdayaan berbasis kewirausahaan, teknologi, dan jaringan ekonomi. Al-Maun versi abad ke-21 bukan hanya menolong, tetapi membangun kemandirian ekonomi yang sistematis.
  • Keempat, Kepemimpinan Kader yang Membumikan Kesalehan Sosial. Kader Muhammadiyah harus menganut gaya kepemimpinan ala kyai Dahlan: mendengar umat, bekerja dengan ilmu, dan membela yang lemah.

Inilah wajah baru Al-Ma’un Generasi Muda Muhammadiyah: lebih strategis, lebih struktural, dan lebih menjawab tantangan zaman. Indonesia memasuki fase sejarah yang menentukan. Bonus demografi, digitalisasi, dan dinamika global membuka banyak peluang, tetapi sekaligus menghadirkan risiko besar. Di saat bangsa membutuhkan model gerakan sosial modern yang berkeadilan, Teologi Al-Maun kembali menunjukkan relevansinya sebagai panduan moral, sosial, dan intelektual.

Di usia ke-113, Muhammadiyah bukan hanya organisasi tua. Ia adalah gerakan modern yang terus menemukan relevansi di setiap zaman. Tantangan Indonesia hari ini memang berbeda dengan tantangan tahun 1912. Namun spirit Al-Maun—spirit menolong, memberdayakan, dan menghadirkan keadilan—tetap menjadi kompas moral yang tidak pernah kehilangan arah.

Sebagai seseorang yang pernah hidup dalam atmosfer Muhammadiyah, saya percaya bahwa gerakan ini akan terus memainkan peran besar bagi bangsa. Tugas generasi kita dan berikutnya adalah memastikan bahwa Al-Maun bukan hanya ayat yang dibaca, tetapi cara hidup yang diwujudkan. Selamat Milad, Semoga Persyarikatan Muhammadiyah dapat terus menjadi cahaya yang menuntun Indonesia menuju masa depan yang lebih adil, berkemajuan, dan berkeadaban. (*)

Check Also

Komplotan Begal Motor Mahasiswa Berhasil Diamankan Polresta Malang Kota

MALANG, MaTaSaRoJa.Id – Aksi pencurian dengan kekerasan (curas) yang menyasar mahasiswa di Kota Malang akhirnya …