KEDIRI, MaTaSaRoJa.Id – Sejak dua hari terakhir, warga di Kelurahan Campurejo, Kecamatan Mojoroto, khususnya di RT 12 RW 03, mengalami krisi air bersih, yang memaksa warga beradaptasi dengan kondisi darurat setelah layanan PDAM mati total. Hal ini disebabkan proses perbaikan Pompa produksi di Wilis Indah ole PDAM Tirta Dhaha yang tak kunjung usai. Situasi ini memaksa ratusan kepala keluarga mencari alternatif tempat mandi, bahkan hingga ke tempat kerja dan rumah kerabat.
Salah satu warga yang merasakan dampak langsungnya adalah Roy Kurniawan. Pria yang bermukim di gang sempit tersebut mengaku sudah tiga hari tidak mendapatkan aliran air dari keran rumahnya. Akses kendaraan besar seperti truk tangki pun sulit menjangkau lokasi karena jalur gang yang terbatas.
“Yang di depan-depan mungkin sudah dapat info atau dropping, tapi yang di belakang-belakang seperti kami ini belum,” keluh Roy, Rabu (10/6/2026).
Kondisi ini membuat Roy dan keluarganya harus putar otak. Untuk kebutuhan mandi, ia memanfaatkan fasilitas di tempat kerjanya. Sementara untuk kebutuhan minum dan masak, ia harus meminta bantuan tetangga atau mengambil air secukupnya dari sumber lain yang masih tersedia.
“Kalau untuk keluarga, ya kita ambil secukupnya saja. Tetangga juga kan bekerja, jadi kita nggak mau merepotkan berlebihan,” ujarnya dengan nada pasrah namun tetap optimis.
Melihat warganya yang mulai kesulitan, Ketua RT 12 RW 03, Agus Gunawan, tak tinggal diam. Ia segera mengambil langkah strategis dengan menghubungi layanan darurat 112 Kota Kediri. Agus melaporkan bahwa ada 158 kepala keluarga di wilayahnya yang terdampak mati totalnya layanan PDAM sejak sehari sebelumnya.
“Langkah pertama yang saya ambil adalah menghubungi 112. Alhamdulillah, koordinasi berjalan baik. Saya sampaikan bahwa ada Puskesmas, sekolah, dan permukiman padat penduduk yang butuh air,” jelas Agus.
Berkat laporan tersebut, tim 112 merespons cepat. Satu unit mobil pemadam kebakaran (Damkar) bersiap mengirimkan bantuan air bersih ke lokasi. Agus berharap, selain bantuan darurat berupa dropping air, pemerintah kota juga memikirkan solusi jangka panjang.
“Harapan saya, kalau kekeringan atau gangguan ini sering terjadi, jangan hanya mengandalkan dropping. Perlu ada usaha sistematis, misalnya pengeboran sumur dalam atau infrastruktur alternatif, mengingat lingkungan Campurejo ini padat dan banyak perkantoran,” harapnya.
Di tengah keterbatasan akses, kreativitas warga menjadi kunci bertahan hidup. Purwanto, warga lain di RT 12 RW 03, memilih cara tradisional namun melelahkan untuk mendapatkan air bersih. Selama dua hari terakhir, ia rutin berkendara sepeda motor menuju rumah ayahnya di RT 11 yang masih memiliki akses air lebih baik.
Dengan jerigen dan galon-galon kosong di boncengan, Purwanto bolak-balik mengangkut air untuk kebutuhan sehari-hari keluarganya.
“Ya mau bagaimana lagi, daripada tidak bisa mandi dan masak. Saya ambil dari rumah ayah di RT sebelah,” katanya singkat.
Kisah Purwanto menggambarkan betapa beratnya beban psikologis dan fisik yang ditanggung warga saat krisis air melanda. Gang-gang kecil yang menjadi ciri khas permukiman padat di Kota Kediri ternyata menjadi tantangan tersendiri bagi distribusi bantuan darurat.
Hingga berita ini diturunkan, warga Campurejo masih menunggu kedatangan armada Damkar yang dikabarkan sedang dalam perjalanan. Kehadiran air bersih sangat dinanti untuk meringankan beban warga yang telah berjuang selama 48 jam tanpa aliran PDAM.
Pemerintah Kota Kediri melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) serta PDAM setempat diharapkan dapat segera melakukan perbaikan jaringan dan mengevaluasi infrastruktur perpipaan di wilayah padat penduduk seperti Campurejo, agar kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang. (*/red)